Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO — Karawo tak lagi sekadar sulaman tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tangan pelaku ekonomi kreatif Gorontalo, kain khas itu terus mencari bentuk baru untuk menembus pasar yang lebih luas.
Transformasi tersebut akan menjadi salah satu sorotan Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo pada 11–13 September 2026 di Grand Palace Convention Center.
Festival yang memadukan seni, kerajinan, fashion, kuliner, UMKM, dan hiburan itu hadir bersama Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026. Tahun ini, HARFEST mengusung tema “Harmoni Kreativitas, Menyulam Warisan, Meningkatkan Daya Saing”, sedangkan GKK mengangkat tema “Ritme Hulondalo, Harmoni Warisan Gorontalo.”
Bukan sekadar pesta budaya, HARFEST 2026 dirancang sebagai panggung untuk mengubah warisan lokal menjadi kekuatan ekonomi. Festival ini menghadirkan festival kuliner, pameran UMKM, seminar dan talkshow, showcase Karawo, pameran olahan kopi, Karawo fashion show, hingga berbagai kompetisi kreatif.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian tahun ini adalah eksplorasi wastra Gorontalo dengan memadukan kain Karawo dan kain tenun.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo Bambang Satya Permana mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari strategi memperluas variasi produk wastra lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah Karawo.
“Pada pelaksanaan tahun ini ada inovasi terbaru terkait wastra, khususnya pada hasil kerajinan kain Karawo. Karawo ini kita padukan dengan kain tenun,” ujar Bambang.
Menurut dia, pengembangan desain dan teknik pengolahan menjadi penting agar Karawo tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi mampu mengikuti selera pasar dan perkembangan industri kreatif.
HARFEST 2026 juga tak hanya menawarkan pameran dan agenda bisnis. Yura Yunita, penyanyi nasional yang dikenal melalui karya-karya bernuansa personal dan inspiratif, dijadwalkan menjadi salah satu pengisi hiburan dalam festival tersebut.
Kehadiran Yura menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat, terutama generasi muda. Di sisi lain, panggung Karawo fashion show akan memperlihatkan bagaimana kain tradisional Gorontalo dapat diterjemahkan ke dalam desain yang lebih modern.
Perpaduan antara musik, fashion, seni, dan kerajinan tersebut memperlihatkan arah baru HARFEST: menjadikan kebudayaan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Di balik kemeriahan festival, agenda bisnis menjadi salah satu fokus utama BI Gorontalo.
Melalui business matching, BI menargetkan fasilitasi penjualan produk UMKM mencapai Rp4,2 miliar. Pelaku usaha akan dipertemukan dengan berbagai calon mitra, mulai dari buyer, off-taker, aggregator, reseller, hingga jaringan ritel, termasuk mitra yang berorientasi ekspor.
Tidak berhenti pada perluasan pasar, akses pembiayaan juga menjadi perhatian. Nilai business matching pembiayaan ditargetkan mencapai Rp550 juta melalui sinergi dengan perbankan dan lembaga pembiayaan.
Dengan skema tersebut, HARFEST diharapkan menjadi ruang konkret bagi UMKM untuk memperoleh pasar, memperluas jejaring, sekaligus mendapatkan akses pembiayaan bagi pengembangan usaha.
Digitalisasi transaksi juga menjadi bagian penting dari pelaksanaan HARFEST 2026. Penggunaan QRIS akan diperluas di kawasan festival sehingga transaksi produk UMKM dapat berlangsung lebih cepat, praktis, dan nontunai.
Langkah tersebut sekaligus mendorong pelaku UMKM untuk semakin akrab dengan ekosistem pembayaran digital.
Bagi BI, digitalisasi bukan sekadar persoalan cara membayar. QRIS menjadi bagian dari transformasi UMKM agar semakin siap masuk ke ekosistem ekonomi digital.
Perhatian BI terhadap Karawo bukan perkara baru. Pengembangan komoditas budaya tersebut telah dilakukan sejak 2010, mulai dari peningkatan kualitas, pengembangan desain, hingga perluasan akses pasar.
Sejumlah inovasi kemudian lahir dari proses tersebut. Karawo dikembangkan melalui perpaduan dengan teknik eco-printing serta TENUKALA—Tenun, Karawo dan Leaf Arts, yang berhasil masuk dalam Top-20 Impactful Program Citra Nusa.
Rangkaian inovasi itu menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama. Sebaliknya, tradisi dapat terus hidup ketika mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Kolaborasi HARFEST dengan Gorontalo Karnaval Karawo 2026 semakin memperluas panggung promosi kain khas Gorontalo tersebut.
GKK kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Status itu diharapkan meningkatkan eksposur Karawo sekaligus menarik lebih banyak wisatawan datang ke Gorontalo.
Pada titik inilah Karawo tidak lagi berdiri sendiri sebagai produk kerajinan. Ia bertemu dengan fashion, pariwisata, UMKM, perdagangan, industri kreatif, hingga ekonomi digital.
HARFEST 2026 pada akhirnya membawa satu pesan besar: warisan budaya dapat menjadi mesin ekonomi apabila kreativitas, pasar, teknologi, dan jejaring usaha bergerak dalam satu irama.
Dari sehelai kain yang disulam dengan tangan, Gorontalo sedang mencoba menenun cerita yang lebih besar—tentang identitas, kreativitas, dan ambisi membawa produk lokal menembus pasar nasional bahkan internasional.
Pewarta: Ismail