Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Ikan selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat pesisir Desa Botubarani. Namun di tangan mahasiswa KKN Tematik II Universitas Negeri Gorontalo (UNG), hasil laut itu dicoba diubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai: camilan amplang yang dapat diproduksi sendiri oleh warga dan berpeluang menjadi produk khas desa.
Gagasan itu diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Amplang Bahari Botubarani: Pemberdayaan Perempuan Pesisir melalui Diversifikasi Olahan Ikan untuk Penguatan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Keluarga di Desa Botubarani.”
Kegiatan yang berlangsung pada 3 September 2026 tersebut mempertemukan mahasiswa KKN, dosen pendamping, pemerintah desa, dan warga perempuan pesisir dalam satu kegiatan yang tidak berhenti pada penyampaian materi. Warga diajak langsung mengolah ikan menjadi amplang.
Bukan sekadar memasak, kegiatan ini membawa satu gagasan yang lebih besar: potensi ikan lokal tidak semestinya berhenti sebagai bahan konsumsi, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang membuka peluang ekonomi bagi keluarga.
Mengubah Potensi Laut Menjadi Peluang Ekonomi
Desa Botubarani dikenal sebagai wilayah pesisir dengan aktivitas masyarakat yang dekat dengan sumber daya perikanan. Kondisi itu menjadi alasan mahasiswa KKN Tematik II UNG memilih diversifikasi olahan ikan sebagai salah satu program pengabdian.
Selama ini, amplang yang beredar di Gorontalo banyak diperoleh melalui distribusi. Melalui program tersebut, mahasiswa memperkenalkan gagasan berbeda: mengembangkan amplang dari ikan lokal yang tersedia di lingkungan masyarakat Botubarani.
Dosen pendamping memberikan materi mengenai potensi hasil perikanan, diversifikasi produk pangan, hingga peluang pengembangan hasil laut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Warga juga diberikan pemahaman bahwa pengolahan hasil perikanan dapat menjadi salah satu strategi untuk memperpanjang nilai guna bahan pangan sekaligus membuka peluang usaha rumahan.
“Amplang Bahari Botubarani” kemudian diperkenalkan sebagai contoh inovasi yang dapat dikembangkan masyarakat, terutama perempuan pesisir.
Perempuan Pesisir Turun Langsung ke Dapur Produksi
Setelah materi disampaikan, suasana kegiatan berubah menjadi lebih praktis. Warga tidak lagi sekadar duduk mendengarkan. Mereka bersama mahasiswa mulai mempersiapkan bahan dan mengikuti tahapan pembuatan amplang.
Mulai dari mengolah dan mencampurkan bahan, membentuk adonan, hingga mengolahnya menjadi amplang siap konsumsi dilakukan secara bersama-sama.
Mahasiswa KKN Tematik II UNG turut mendampingi warga pada setiap tahapan. Interaksi berlangsung dua arah. Warga bertanya, mencoba, sekaligus berdiskusi mengenai proses pengolahan dan kemungkinan pengembangan produk.
Antusiasme warga perempuan terlihat sepanjang praktik berlangsung.
Bagi mahasiswa KKN, keterlibatan langsung tersebut menjadi bagian penting dari program. Pengetahuan yang diberikan diharapkan tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat dipraktikkan kembali secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Dari Produk KKN Menuju Identitas Desa
“Amplang Bahari Botubarani” tidak hanya diperkenalkan sebagai makanan ringan. Produk ini diarahkan sebagai gagasan awal untuk mengembangkan produk olahan khas berbasis potensi lokal Desa Botubarani.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, produk tersebut berpeluang memiliki identitas tersendiri sekaligus menjadi alternatif kegiatan ekonomi bagi masyarakat.
Potensi tersebut menjadi semakin penting karena bahan baku berasal dari sumber daya yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.
Namun, pengembangan produk tentu tidak berhenti pada kemampuan membuat amplang. Masih terdapat pekerjaan lanjutan, seperti menjaga kualitas produk, pengemasan, pemasaran, perizinan, hingga membangun identitas produk agar mampu bersaing di pasar.
Program KKN ini setidaknya membuka pintu pertama: mengubah cara pandang terhadap ikan lokal—dari sekadar hasil tangkapan menjadi bahan baku produk bernilai tambah.
Dosen, Pemerintah Desa, dan Mahasiswa Berkolaborasi
Kegiatan tersebut didampingi tiga Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Dr. St. Aisyah R., S.Pt., M.Si. selaku ketua, Ramlan Mustafa, SP., M.Si., dan Widya Rahmawaty Saman, S.TP., M.Si.
Program juga mendapat pendampingan dari Sekretaris Desa Botubarani, Salma Yunus Pulumoduyo, serta melibatkan warga perempuan pesisir.
Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh Koordinator Desa (Kordes) KKN Tematik II Desa Botubarani, Rifki S.Hi Salam, bersama mahasiswa KKN Tematik II UNG.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program tidak hanya menjadi kegiatan mahasiswa, tetapi juga memiliki keterhubungan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat desa.
Kuis, Hadiah, dan Amplang Hasil Karya Warga
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab dan kuis. Warga diberi kesempatan menguji pemahaman mereka mengenai materi diversifikasi olahan ikan maupun proses pembuatan amplang.
Suasana semakin interaktif ketika warga turut menjawab pertanyaan yang diberikan.
Sebagai bentuk apresiasi, warga yang mengikuti kegiatan memperoleh Amplang Bahari Botubarani yang mereka buat sendiri bersama mahasiswa. Sejumlah hadiah juga disiapkan dosen pendamping bagi warga yang berhasil menjawab pertanyaan dalam sesi kuis.
Program tersebut diharapkan tidak berakhir ketika mahasiswa meninggalkan Desa Botubarani.
Mahasiswa KKN Tematik II UNG berharap keterampilan yang diperoleh warga dapat menjadi bekal untuk mengembangkan olahan ikan secara mandiri. Bagi perempuan pesisir, keterampilan tersebut juga diharapkan membuka ruang baru untuk berkreasi sekaligus berkontribusi terhadap ekonomi keluarga.
Pada akhirnya, “Amplang Bahari Botubarani” adalah upaya sederhana untuk memulai sesuatu yang lebih besar: menjadikan potensi laut sebagai produk, produk sebagai peluang, dan peluang sebagai kekuatan ekonomi masyarakat.
Dari ikan yang selama ini dekat dengan kehidupan warga pesisir, mahasiswa KKN Tematik II UNG mencoba menanamkan satu kemungkinan baru-bahwa hasil laut Desa Botubarani bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga bisa menjadi identitas dan sumber nilai ekonomi desa.
Pewarta: Saad Sugai