Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO — Ancaman narkoba tidak selalu datang dari tempat yang jauh. Ia bisa menyusup melalui pergaulan, lingkungan, hingga ruang digital yang setiap hari bersentuhan dengan anak-anak. Di tengah tantangan itu, keluarga dipandang memiliki posisi paling strategis untuk membangun pertahanan sejak dini.
Kesadaran tersebut mendorong Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik menggelar program “Optimalisasi Peran Keluarga dalam Ketahanan Psikologis Anak sebagai Benteng Utama Pencegahan Narkoba” di Desa Barakati, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, pada 2 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Desa Barakati itu melibatkan orang tua, siswa-siswi SMP 2 Batudaa, pengasuh, guru PAUD dan SD, pemuda, serta tokoh masyarakat.
Program tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mengenalkan bahaya narkoba. Tim KKN mencoba masuk dari sisi yang lebih mendasar: membangun keluarga yang mampu menjadi ruang aman bagi anak ketika menghadapi tekanan, persoalan pergaulan, maupun pengaruh negatif dari lingkungan.
Koordinator Desa (Kordes) KKN Tematik, Laode Benhur, mengatakan keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan dalam membentuk karakter dan ketahanan psikologis anak.
“Kami fokus pada pemberdayaan keluarga melalui edukasi psikologis, keterampilan komunikasi antaranggota keluarga, dan strategi pengawasan yang positif. Keluarga adalah garda terdepan dalam mencegah masuknya pengaruh negatif seperti narkoba,” ujar Laode.
Bukan Sekadar Penyuluhan
Program ini dirancang dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Tim KKN tidak hanya memberikan informasi mengenai bahaya narkoba, tetapi juga membekali keluarga dengan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu agenda utama adalah pelatihan parenting efektif dan komunikasi keluarga yang ditujukan kepada sekitar 50 keluarga. Orang tua didorong untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, mengenali perubahan perilaku, sekaligus menerapkan pengawasan tanpa menciptakan hubungan yang penuh tekanan.
Tim juga memberikan edukasi mengenai bahaya narkoba dan tanda-tanda awal penyalahgunaan kepada orang tua dan pemuda.
Di sisi lain, workshop ketahanan psikologis atau resiliensi anak menjadi bagian penting dari program. Melalui kegiatan tersebut, orang tua dan guru diperkenalkan pada sejumlah teknik praktis untuk membantu anak menghadapi tekanan dan menolak pengaruh negatif.
Menurut tim KKN, anak yang memiliki kemampuan menghadapi tekanan, lingkungan suportif, serta komunikasi yang sehat di dalam keluarga diharapkan memiliki modal psikologis yang lebih kuat untuk mengambil keputusan secara tepat.
Program tersebut juga mendorong pembentukan kelompok dukungan orang tua (parent support group). Forum ini diharapkan menjadi ruang bagi orang tua untuk berbagi pengalaman, mendiskusikan persoalan pengasuhan, serta membangun mekanisme pemantauan bersama di lingkungan masyarakat.
Dibawa Pulang, Bukan Berhenti di Aula Desa
Tim KKN menyadari bahwa penyuluhan akan kehilangan makna jika pengetahuan yang diberikan hanya berhenti setelah kegiatan berakhir.
Karena itu, tim menyiapkan modul panduan sederhana yang dapat digunakan keluarga serta media komunikasi melalui grup WhatsApp untuk mendukung proses tindak lanjut dan monitoring.
“Kami ingin memastikan materi tidak berhenti saat kegiatan selesai. Ada mekanisme follow-up agar keluarga dapat terus menerapkan pola yang dipelajari,” kata salah satu anggota tim KKN.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi keberlanjutan program. Tim berharap komunikasi antara keluarga, kader masyarakat, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan unsur pendidikan tetap berjalan setelah rangkaian kegiatan KKN berakhir.
Desa Diajak Bergerak Bersama
Pemerintah Desa Barakati dan tokoh masyarakat turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program. Pemerintah desa menyediakan fasilitas Aula Desa Barakati sekaligus membantu menyosialisasikan kegiatan kepada masyarakat.
Kolaborasi juga melibatkan tenaga kesehatan dari puskesmas setempat serta unsur pendidikan dan tokoh masyarakat.
Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting karena persoalan penyalahgunaan narkoba tidak dapat ditangani hanya melalui satu institusi. Keluarga, sekolah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Laode mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir, tetapi dari sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga.
“Keluarga adalah benteng pertama anak. Dengan memperkuat komunikasi dan ketahanan psikologis, kita dapat menurunkan risiko anak terjerumus ke penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak memandang pencegahan narkoba sebagai tugas aparat semata. Menurutnya, upaya tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat anak.
“Peran seluruh elemen masyarakat sangat penting agar hasil program ini tidak berhenti sebagai kegiatan KKN, tetapi dapat terus diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Laode.
Melalui program tersebut, Desa Barakati diharapkan tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan KKN, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama bahwa perang melawan narkoba dapat dimulai dari percakapan sederhana antara orang tua dan anak di dalam rumah.
Pewarta: Saad Sugai