Tarif Terjangkau, Penghasilan Menyusut: Realitas Driver Ojek Online

Kamis, 30 April 2026 13:39 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID, GORONTALO — Fenomena transportasi ojek online di kawasan kampus Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan dinamika yang kontradiktif antara kebutuhan mahasiswa dan kesejahteraan pengemudi. Di satu sisi, tarif yang terjangkau menjadi solusi mobilitas bagi mahasiswa, namun di sisi lain berdampak pada menurunnya pendapatan para driver.

Seorang pengemudi ojek online, Imran (45), mengaku mengalami penurunan pendapatan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut penghasilannya kini hanya sekitar separuh dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya jumlah pesanan harian, sementara biaya operasional tetap harus dipenuhi.

“Orderan terasa semakin sedikit, tapi biaya tetap berjalan. Pendapatan jadi jauh menurun,” ujarnya.

Baca juga:

Banyak Pemuda Putus Sekolah di Sulsel, Komrad Minta Ujian Paket A, B, C Digelar Gratis

Selain itu, Imran juga menyoroti adanya potongan dari pihak aplikasi yang dinilai cukup membebani. Untuk tarif di bawah Rp10.000, potongan mencapai 10 persen, sementara untuk nominal di atasnya berlaku skema berbeda. Menurutnya, kebijakan ini semakin mempersempit margin keuntungan di tengah persaingan yang semakin ketat.

Di sisi lain, mahasiswa sebagai pengguna justru merasakan manfaat dari tarif murah tersebut. Sasya (18), salah satu mahasiswa, mengaku terbantu dengan harga yang terjangkau untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari, terutama karena jarak rumahnya cukup jauh dari kampus.

“Harganya sangat sesuai untuk mahasiswa, apalagi saya harus bolak-balik setiap hari,” katanya.

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa aksesibilitas layanan belum sepenuhnya stabil. Pada kondisi tertentu seperti hujan atau jam sibuk, ketersediaan driver menjadi terbatas sehingga menyulitkan pemesanan.

Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan antara kepuasan konsumen dan kondisi ekonomi pengemudi. Tarif yang murah memang mendukung aktivitas mahasiswa, namun berpotensi mengancam keberlanjutan pendapatan driver jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang adil.

Baca juga:

Modus Minta Diantar, Pelaku Curanmor Lintas Provinsi Akhirnya Tertangkap

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi penyedia layanan transportasi daring untuk menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga dan kesejahteraan mitra pengemudi, agar ekosistem transportasi tetap berjalan secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *