Ketimpangan Gender Gorontalo Menurun, BPS Soroti Pernikahan Dini dan Partisipasi Kerja Perempuan

Kamis, 7 Mei 2026 10:05 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID, Gorontalo – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengungkapkan bahwa indeks ketimpangan gender di Gorontalo menunjukkan tren penurunan pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi BPS tingkat provinsi.


Menurut Agus, angka indeks ketimpangan gender turun dari 0,045 pada 2024 menjadi 0,032 pada 2025.

Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di berbagai sektor, khususnya kesehatan.

Baca juga:

Buku “Jalan Terjal Demokrasi” Karya Reflektif Guru Besar IPDN, Prof. Mansyur Achmad

“Indikator utama yang mendorong penurunan ini adalah meningkatnya akses layanan kesehatan, khususnya bagi perempuan,” ujarnya.
Namun demikian, ia menyoroti masih tingginya angka perempuan yang melahirkan di usia di bawah 20 tahun. Hal ini tercermin dari kenaikan indikator terkait, dari 0,303 menjadi 0,367.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama lintas sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga sosial budaya.
“Perlu edukasi yang masif untuk menunda usia perkawinan dan kelahiran pertama. Ini bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga menyangkut budaya dan pola pikir masyarakat,” jelasnya.

Pada dimensi pemberdayaan, Agus menyebut keterwakilan perempuan di lembaga legislatif belum mengalami peningkatan signifikan. Komposisi saat ini masih didominasi laki-laki sekitar 75 persen, sementara perempuan berada di kisaran 24 persen.

“Ke depan, diharapkan keterwakilan perempuan semakin meningkat agar kesenjangan ini semakin kecil,” tambahnya.

Di sektor pendidikan, data menunjukkan bahwa persentase perempuan dengan pendidikan minimal SMA justru lebih tinggi dibanding laki-laki, yakni 37 persen berbanding 31,37 persen. Hal ini mengindikasikan angka putus sekolah pada laki-laki lebih tinggi, yang umumnya dipengaruhi faktor ekonomi dan tuntutan bekerja lebih awal.

Sementara itu, pada dimensi ketenagakerjaan, partisipasi angkatan kerja laki-laki masih lebih tinggi dibanding perempuan. BPS berharap kesenjangan ini dapat diperkecil melalui peningkatan peluang kerja bagi perempuan, termasuk pekerjaan berbasis rumah tangga dan ekonomi produktif lainnya.

“Bekerja tidak harus di luar rumah, yang penting menghasilkan secara ekonomi,” tegas Agus.

Baca juga:

Densus 88 Temui Munafri Arifuddin, Bahas Ancaman dan Pencegahan Radikalisme

Ia juga menyebutkan bahwa wilayah dengan tingkat ketimpangan gender terendah di Provinsi Gorontalo saat ini adalah Gorontalo Utara.

BPS menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk terus menekan ketimpangan gender dan mendorong terciptanya kesetaraan yang lebih inklusif di masa depan.

Pewarta : Saad Lintang Sugai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *