Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Provinsi Gorontalo mengalami deflasi sebesar 0,96 persen pada Mei 2026 dibandingkan April 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya deflasi di daerah tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Agus Subdiyono, menjelaskan bahwa berdasarkan pengukuran inflasi melalui 11 kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan tingkat deflasi mencapai 3,06 persen dan andil sebesar minus 1,15 persen.

“Terjadi penurunan harga komoditas yang tergabung dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Mei 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan harga tersebut memberikan andil deflasi yang cukup besar,” ujar Agus dalam rilis perkembangan inflasi daerah.
Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, beberapa kelompok pengeluaran lain juga mengalami deflasi, di antaranya pakaian dan alas kaki serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sementara itu, sejumlah kelompok pengeluaran masih mencatat inflasi, seperti perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga, perlengkapan rumah tangga, serta transportasi.
Menurut Agus, meskipun terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga, penurunan harga sejumlah komoditas pangan berlangsung cukup dalam sehingga secara keseluruhan menyebabkan Provinsi Gorontalo mengalami deflasi.
Komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar pada Mei 2026 antara lain cabai rawit dengan andil deflasi sebesar 0,43 persen, bawang merah sebesar 0,18 persen, serta telur ayam ras dan sejumlah komoditas pangan lainnya yang mengalami penurunan harga dibandingkan April 2026.
Meski secara bulanan mengalami deflasi, secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), Gorontalo masih mencatat inflasi sebesar 2,99 persen pada Mei 2026 dibandingkan Mei 2025. Angka tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional.
Dari 11 kelompok pengeluaran yang diukur, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 7,15 persen. Namun, kontribusi kelompok tersebut terhadap inflasi hanya sebesar 0,55 persen.
“Walaupun inflasinya paling tinggi, andilnya masih lebih rendah dibandingkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau karena bobot konsumsinya lebih kecil,” jelas Agus.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan sebesar 4,87 persen dengan andil inflasi mencapai 1,30 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan inflasi di Gorontalo karena merupakan kebutuhan utama masyarakat.
BPS juga mencatat beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi secara tahunan, yakni emas perhiasan, tomat, beras, dan nasi dengan lauk. Menurut Agus, harga emas perhiasan mengalami tren kenaikan selama 12 bulan terakhir meskipun dalam beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan penurunan.
Di sisi lain, sejumlah komoditas masih memberikan andil deflasi secara tahunan, antara lain cabai rawit, terong, dan beberapa komoditas hortikultura lainnya yang mengalami penurunan harga dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara spasial, BPS mencatat tingkat inflasi bulanan di Kabupaten Gorontalo lebih tinggi dibandingkan Kota Gorontalo. Informasi lebih rinci mengenai perkembangan inflasi daerah dapat diakses masyarakat melalui publikasi resmi BPS Provinsi Gorontalo.
“Data lengkap perkembangan inflasi dapat diunduh melalui website resmi BPS Provinsi Gorontalo,” tutup Agus.