Ekspor Gorontalo Tumbuh, Sektor Pariwisata Tunjukkan Tren Positif

Rabu, 3 Juni 2026 16:27 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Gorontalo menunjukkan perkembangan positif pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat nilai ekspor secara kumulatif hingga April 2026 mengalami peningkatan sebesar 9,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Subdiyono, menjelaskan bahwa nilai ekspor Gorontalo secara kumulatif meningkat dari 51,9 juta dolar AS menjadi 55,17 juta dolar AS. Tren tersebut menunjukkan aktivitas ekspor daerah yang terus bertumbuh sepanjang awal tahun.

“Secara kumulatif dibandingkan tahun sebelumnya, nilai ekspor Provinsi Gorontalo terus mengalami peningkatan,” ujar Agus dalam pemaparan Berita Resmi Statistik.

Jepang masih menjadi negara tujuan ekspor utama Gorontalo, disusul Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya. Komoditas ekspor unggulan daerah meliputi ikan, udang dan kepiting (HS 03), barang dari kayu (HS 44), serta buah dan biji-bijian (HS 08).

Menurut Agus, ekspor Gorontalo masih didominasi oleh kelompok barang dari kayu yang memberikan kontribusi terbesar terhadap total nilai ekspor daerah. Produk-produk tersebut antara lain pelet kayu, arang, dan berbagai hasil olahan kayu lainnya.

Sementara itu, perkembangan impor menunjukkan tren yang berbeda. Hingga April 2026, nilai impor Provinsi Gorontalo tercatat sebesar 2,34 juta dolar AS. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ekspor, sehingga neraca perdagangan luar negeri Gorontalo masih mencatat surplus.

Baca juga:

Dansat Brimob Polda Sebut Sosok Komjen Pol. (Purn.) Jusuf Manggabarani Sebagai Bapak Brimob

“Jika ekspor lebih tinggi dibandingkan impor, berarti perdagangan luar negeri Gorontalo mengalami surplus,” jelas Agus.

Selain perdagangan internasional, BPS juga mencatat perkembangan positif pada sektor pariwisata. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel pada April 2026 meningkat sebesar 5,67 poin, dari 28,82 persen menjadi 34,49 persen.

Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya aktivitas kunjungan dan mobilitas masyarakat yang berdampak pada sektor perhotelan. Pada hotel berbintang, tingkat penghunian kamar selama 2026 juga tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Grafik tingkat penghunian kamar hotel berbintang pada tahun 2026 berada di atas capaian tahun 2025. Ini menjadi sinyal yang cukup menggembirakan bagi sektor pariwisata dan perekonomian daerah,” kata Agus.

Meski demikian, rata-rata lama menginap tamu di hotel masih mengalami penurunan. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pelaku usaha perhotelan untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan daya tarik destinasi wisata.

BPS juga mencatat jumlah wisatawan nusantara sepanjang 2026 masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun pada April 2026 terjadi penurunan jumlah perjalanan dibandingkan Maret 2026.

Perjalanan wisatawan dalam wilayah provinsi (intra provinsi) tercatat turun sekitar 17 persen, sedangkan perjalanan antar kabupaten/kota mengalami penurunan sekitar 31 persen.

Baca juga:

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNG Tampilkan Inovasi dan Kreativitas dalam Proyek Akhir Technopreneurship

Menurut Agus, perkembangan tersebut perlu terus dipantau pada bulan-bulan berikutnya untuk melihat apakah tren kunjungan wisata akan kembali meningkat hingga akhir tahun.

“Semoga pada bulan-bulan mendatang pergerakan wisatawan kembali meningkat sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian Gorontalo,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *