Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin melalui tim riset Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menuju Kesehatan yang Berkelanjutan untuk Masa Depan yang Lebih Hijau” di Aston Gorontalo Hotel & Convention Center, Rabu (5/11). Kegiatan ini merupakan bagian dari riset hibah PAIR–LPDP dengan topik “Financial Analysis, Blended Financing, and Procurement for Transitioning Net Zero in Healthcare.” Penelitian ini merupakan kolaborasi dari empat universitas di dalam negeri dan satu universitas di luar negeri, yaitu Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Ichsan Gorontalo, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Khairun Ternate, dan University of Melbourne.

FGD ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, dan masyarakat sipil di Provinsi Gorontalo. Peserta yang hadir antara lain perwakilan dari BAPPEDA Provinsi Gorontalo, Dinas Kesehatan Kota Gorontalo, RSUD Aloei Saboe, RSUD dr. Hasri Ainun Habibie, Puskesmas Biluhu, Kecamatan Biluhu, Walhi, serta lembaga zakat dan filantropi seperti Wahdah Inspirasi Zakat dan BAZNAS.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo yang diwakili oleh Kepala Bidang Riset dan Inovasi, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendorong sistem kesehatan yang efisien dan berketahanan menghadapi tantangan perubahan iklim. FGD dipandu oleh tim peneliti Universitas Hasanuddin yang diketuai oleh Prof. Sri Astuti Thamrin, S.Si., M.Stat., Ph.D. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali tantangan dan peluang penerapan praktik berkelanjutan di fasilitas kesehatan, khususnya dalam mendukung transisi menuju net zero emission.

Dalam diskusi, para peserta menyoroti pentingnya inovasi pembiayaan hijau (green financing) dan blended financing untuk mendukung transformasi sistem kesehatan yang ramah lingkungan. Mereka juga menegaskan perlunya sinergi lintas sektor — pemerintah, lembaga keuangan, rumah sakit, dan masyarakat — guna mewujudkan layanan kesehatan yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong lahirnya strategi kebijakan dan pembiayaan yang dapat mempercepat transisi sektor kesehatan menuju sistem yang lebih hijau dan berketahanan,” ujar Prof. Sri Astuti Thamrin dalam sambutannya.
Usai pelaksanaan FGD, tim peneliti melakukan kunjungan lapangan ke Rumah Sakit Aloei Saboe di Kota Gorontalo dan Puskesmas Biluhu di Kabupaten Gorontalo. Kunjungan ini bertujuan untuk mengamati secara langsung praktik operasional dan tantangan dalam penerapan prinsip keberlanjutan di fasilitas kesehatan, khususnya dalam pengelolaan energi, limbah medis, serta efisiensi layanan.
Kegiatan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain pentingnya integrasi kebijakan pengadaan berkelanjutan di fasilitas kesehatan, peningkatan kapasitas tenaga medis dalam efisiensi energi, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pembiayaan transisi hijau.
Program ini didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, sebagai bentuk komitmen bersama menuju sistem kesehatan nasional yang berkelanjutan dan inklusif.