Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Aroma makanan dan hiruk-pikuk transaksi memenuhi Grand Palace Convention Center (GPCC), Kota Gorontalo. Festival Kuliner dalam rangkaian Hulonthalo Art & Craft Festival (HARFEST) 2026 menjadi etalase bagi 75 pelaku usaha kuliner untuk menawarkan produk sekaligus memperluas pasar.
Festival yang berlangsung 11–13 September 2026 itu tidak sekadar menghadirkan ragam makanan dan minuman lokal. Di balik lapak-lapak kuliner, terdapat geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tengah berupaya memperbesar pasar di tengah persaingan bisnis yang semakin kompetitif.
Sebanyak 75 pelaku usaha kuliner ambil bagian dalam festival tersebut. Mereka berasal dari berbagai sektor UMKM, termasuk pedagang yang selama ini menggantungkan usaha di kawasan Jalan Andalas, salah satu titik aktivitas kuliner di Kota Gorontalo.
Festival Kuliner merupakan bagian dari agenda tahunan HARFEST yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo bersama pemerintah daerah, Dekranasda, dan sejumlah mitra strategis. Tahun ini, HARFEST melibatkan 165 UMKM binaan BI Gorontalo.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, mengatakan festival tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat kapasitas pelaku UMKM.

“Festival kuliner ini adalah bagian dari rangkaian Hulonthalo Art and Craft Festival, satu event besar tahunan yang kami selenggarakan secara kolaboratif dengan pemerintah provinsi, pemerintah kota dan kabupaten, Dekranasda provinsi maupun kota dan kabupaten, serta seluruh mitra strategis,” kata Bambang.
Menurut dia, festival tidak hanya memberi ruang kepada masyarakat untuk menikmati produk kuliner lokal. Pelaku usaha juga memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen dan membuka akses pasar yang lebih luas.
BI Gorontalo mendorong UMKM tidak berhenti pada peningkatan cita rasa produk. Kualitas, kemasan, strategi pemasaran hingga sistem pembayaran menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing usaha.
Salah satu instrumen yang terus didorong adalah penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Digitalisasi transaksi dinilai dapat memberikan kemudahan bagi konsumen sekaligus membantu pelaku usaha memiliki pencatatan transaksi yang lebih tertata.
Potensi ekonomi dari sektor kuliner Gorontalo pun cukup besar. Aktivitas perdagangan kuliner di kawasan Jalan Andalas, misalnya, disebut mampu mencatat perputaran transaksi hingga sekitar Rp1,8 miliar dalam beberapa bulan.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa kuliner bukan sekadar aktivitas konsumsi masyarakat. Sektor ini telah berkembang menjadi salah satu ruang perputaran ekonomi yang melibatkan pelaku usaha, pekerja, pemasok bahan baku, hingga konsumen.
Bambang menilai potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui penguatan kapasitas pelaku usaha, inovasi produk, perluasan pemasaran, dan pemanfaatan teknologi digital.
HARFEST 2026 pun ditempatkan sebagai salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar. Festival diharapkan tidak berhenti sebagai perhelatan selama tiga hari, tetapi dapat membuka peluang transaksi dan jaringan usaha setelah kegiatan berakhir.
“Kegiatan ini adalah kegiatan untuk masyarakat Gorontalo. Karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat Kota Gorontalo dan sekitarnya untuk datang dan meramaikan HARFEST 2026,” ujar Bambang.
Pewarta: Ismail