Rekaman CCTV Bikin Geger! Bongkar Dugaan Penembakan Remaja Oleh Oknum Polisi di Makassar

Selasa, 3 Maret 2026 01:00 WITA | Lukman Hakim

INFOO24JAM,-MAKASSAR- Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang beredar luas di media sosial memicu sorotan publik terkait dugaan penembakan seorang remaja di Kota Makassar. Seorang pemuda bernama Betrand Eka Prasetyo (18) dilaporkan meninggal dunia usai diduga tertembak oleh oknum anggota Polsek Panakkukang, jajaran Polrestabes Makassar.

Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Toddopuli Raya, Kecamatan Panakkukang, pada Minggu pagi (1/3/2026) sekitar pukul 07.00 Wita.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, membenarkan bahwa anggota yang diduga terlibat dalam insiden itu telah diperiksa oleh Propam Polrestabes Makassar dan Propam Polda Sulawesi Selatan.

Baca juga:

Kapolda Sulsel Pimpin Upacara Hari Bhayangkara Ke-79, Tegaskan Komitmen Polri untuk Masyarakat

“Kami sudah melakukan tindakan kepada anggota kami yang melakukan tindakan penembakan terhadap korban dan telah dilakukan pemeriksaan secara intensif,” ujar Arya saat dikonfirmasi, Selasa (3/3/2026).

Berawal dari Laporan Kerumunan Remaja

Menurut Arya, insiden bermula ketika sekelompok anggota kepolisian yang baru saja menyelesaikan patroli menerima informasi melalui Handy Talky (HT) dari Kapolsek Rappocini. Informasi tersebut menyebutkan adanya puluhan remaja yang berkumpul di kawasan Toddopuli dan diduga melakukan aksi yang meresahkan warga menggunakan senjata mainan jenis peluru gel atau “omega”.

“Di wilayah Toddopuli ada anak-anak yang sedang ramai, sekitar puluhan orang, melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat dengan senjata mainan,” jelasnya.

Ia menambahkan, aktivitas para remaja itu tidak sekadar bermain tembak-tembakan, tetapi juga disebut mengganggu pengguna jalan. Beberapa warga dilaporkan terdorong hingga terjatuh dan merasa terganggu atas aksi tersebut.

Tembakan Peringatan dan Dugaan Letusan Tak Sengaja

Mendapat laporan tersebut, anggota polisi yang berada di lapangan menuju lokasi dengan tujuan membubarkan kerumunan. Saat tiba di tempat kejadian perkara (TKP), polisi melihat korban diduga tengah melakukan tindakan yang dianggap kurang pantas terhadap salah satu warga.

“Begitu turun dari mobil, korban langsung dipegang. Sebelumnya ada satu kali tembakan peringatan ke atas sehingga kelompok remaja lainnya membubarkan diri,” kata Arya.

Dalam proses penanganan itu, korban disebut melakukan perlawanan dengan meronta. Pihak kepolisian menyatakan senjata api milik anggota tersebut kemudian terletus dan mengenai bagian tubuh korban.

“Tidak sengaja terletus senjatanya mengenai salah satu bagian tubuhnya,” ujarnya.

Korban sempat dilarikan ke RS Grestelina untuk mendapatkan pertolongan medis, lalu dirujuk ke RS Bhayangkara. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Hasil Sementara: Pendarahan Masif

Kapolrestabes menyampaikan bahwa jenazah korban telah menjalani proses autopsi. Hasil lengkap pemeriksaan forensik akan disampaikan oleh pihak dokter.

“Untuk sementara, hasilnya korban meninggal karena pendarahan yang cukup masif,” ungkap Arya.

Baca juga:

Munafri Ajak Tarekat Al Muhammadiyah Perkuat Persatuan dan Akhlak Umat

Ia menegaskan bahwa kepolisian akan mendalami apakah tindakan anggota tersebut sudah sesuai prosedur atau tidak. Jika ditemukan unsur pelanggaran atau tindak pidana, pihaknya memastikan akan mengambil langkah tegas.

“Melihat alasan dan tindakan, apakah itu proper atau tidak. Kalau ada tindak pidana, tentu akan kami tindak,” tegasnya.

Hingga kini, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan internal dan menjadi perhatian publik menyusul viralnya rekaman CCTV yang beredar di berbagai platform media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *