Hanya karena Dipanggil ‘Ibu’, Wanita Ini Tolak Paket dan Usir Kurir

Sabtu, 10 Mei 2025 14:32 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID – Sebuah video yang merekam momen tak terduga antara seorang kurir dan pelanggan viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang wanita menolak menerima paket karena merasa tersinggung dipanggil “ibu” oleh kurir.

Dalam video yang beredar, tampak kurir tengah mengantarkan paket kepada seorang wanita. Sebagaimana lazimnya, kurir menyapa penerima dengan panggilan “ibu”. Namun, panggilan tersebut justru memicu kemarahan sang penerima.

Wanita itu terlihat menolak menerima paket dan memarahi kurir sambil mengusirnya.
“Manggil-manggil aku Ibu. Aku tidak terima paketan darimu. Minggat koe,” ucapnya dengan logat Jawa yang kental.

Hingga kini belum diketahui pasti lokasi dan waktu kejadian tersebut. Meski begitu, video tersebut telah menyebar luas dan menuai berbagai reaksi dari warganet.

Sebagian besar netizen menyayangkan sikap wanita tersebut, yang dinilai terlalu sensitif terhadap sapaan yang sebenarnya umum digunakan dalam budaya Indonesia. Banyak yang menilai panggilan “ibu” merupakan bentuk penghormatan, bukan penilaian atas usia.

“Padahal kalau nasabah VVIP mana pernah dipanggil mbak atau mas, selalu dipanggil ibu atau bapak, bahkan kalau masih muda,” tulis akun @ver***.

Komentar serupa juga datang dari warganet lain yang menyindir reaksi berlebihan wanita tersebut:

Baca juga:

Bawaslu Gorontalo Dorong Mahasiswa Berperan Aktif dalam Pengawasan Pemilu

“Dari suaranya aja emak-emak banget,” tulis akun @ann***.

“Kasihan abang kurirnya. Mungkin maunya dipanggil nenek,” ujar akun @me_*.

“Panggilan ‘ibu’ itu justru bentuk sopan santun,” tulis akun @suk***.

“Pusing banget nih pasti mas kurirnya. Sabar ya, bang,” komentar akun @vrk***.

Baca juga:

Euforia Juara Persib Bandung Tercoreng Aksi Vandalisme Suporter di Stadion GBLA

“Umur segitu lagi lucu-lucunya. Harap maklum ya,” tambah akun @mie***.

Peristiwa ini kembali membuka diskusi seputar pentingnya memahami konteks budaya dalam komunikasi sehari-hari, serta empati terhadap profesi pelayanan seperti kurir yang hanya menjalankan tugas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *