Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO — Kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan Gita Cookies di Kelurahan Tenda, Kota Gorontalo, mulai memperkuat pemasaran digital sebagai upaya memperluas akses pasar dan membangun kemitraan usaha.
Pendampingan tersebut dilakukan melalui program pengabdian kolaboratif Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dengan menerapkan model KOMPAS (Komunikasi Pemasaran dan Kemitraan Berbasis Digital untuk Akses Pasar Sosial).
Program ini diarahkan untuk menjawab persoalan utama yang selama ini dihadapi Gita Cookies, yakni keterbatasan akses pemasaran. Padahal, kelompok tersebut telah memiliki kemampuan produksi serta legalitas usaha yang memadai.
Gita Cookies yang terbentuk sejak 2023 memproduksi sejumlah produk pangan, antara lain kue kering khas Gorontalo atau kue krawang, roti, dan abon berbahan dasar ikan tuna. Usaha tersebut diawali melalui dukungan program CSR Pertamina.
Hasil pemetaan awal tim pengabdian menunjukkan, persoalan utama kelompok bukan terletak pada kemampuan produksi. Legalitas usaha, Nomor Induk Berusaha (NIB), label, dan kemasan juga telah tersedia. Kendala justru berada pada pemasaran yang belum memiliki jalur komunikasi bisnis secara berkelanjutan.
Selama ini, promosi produk masih mengandalkan akun Facebook pribadi, forum jual beli daring, serta bazar yang berlangsung secara musiman. Kelompok juga belum memiliki pembeli tetap, reseller, distributor, maupun kerja sama formal dengan toko oleh-oleh, coffee shop, atau hotel.
Salah seorang anggota kelompok Gita Cookies mengatakan persoalan utama yang mereka hadapi adalah pemasaran.
“Kendalanya itu pemasaran. Kalau untuk pembuatan, kami tidak kendala di situ, cuma pemasarannya itu yang sangat sulit bagi kita kelompok usaha UMKM yang ada di Kelurahan Tenda.”
Di sisi lain, produk Gita Cookies telah menunjukkan adanya permintaan pasar. Berdasarkan hasil wawancara dalam pemetaan program, lima kilogram ikan yang diolah menjadi abon dapat terserap habis dan masih diikuti permintaan lanjutan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang pasar yang dapat dikembangkan melalui komunikasi bisnis yang lebih terarah.
Melalui model KOMPAS, pendampingan dilakukan dalam enam tahapan, yakni pemetaan, branding, komunikasi digital, business matching, monitoring, dan keberlanjutan.
Pada tahap komunikasi digital, tim memfasilitasi Gita Cookies membangun kehadiran resmi pada sejumlah platform digital. Saat ini kelompok telah memiliki akun TikTok @gita.cookies1, Instagram @gita.cookies, Facebook Gita Cookies, serta WhatsApp Business sebagai kanal komunikasi dan pemesanan.
Selain akun media sosial, tim juga menyiapkan katalog digital yang memuat foto produk, deskripsi, harga, dan kontak pemesanan. Materi pendukung lainnya meliputi video proses produksi, testimoni pembeli, poster dan flyer digital, serta template profil usaha dan surat penawaran kerja sama.
Setiap platform diarahkan memiliki fungsi yang berbeda. TikTok digunakan untuk menjangkau segmen muda dan calon reseller melalui video pendek mengenai proses produksi dan aktivitas di balik layar. Instagram difungsikan sebagai katalog visual, sementara Facebook diarahkan untuk menjangkau calon mitra institusi. WhatsApp Business digunakan sebagai kanal komunikasi langsung dengan pembeli maupun calon mitra.
Data awal yang dicatat dalam laporan menunjukkan akun Instagram Gita Cookies memiliki 10 unggahan dan 28 pengikut, sedangkan akun TikTok berada pada tahap awal dengan satu pengikut dan tiga suka. Data tersebut akan menjadi pembanding dalam tahap monitoring untuk melihat perkembangan interaksi digital setelah pendampingan.
Pendampingan tidak berhenti pada pembuatan akun media sosial. Tahap berikutnya diarahkan pada business matching, yakni mempertemukan kelompok dengan calon mitra pasar seperti toko oleh-oleh, coffee shop, hotel, dan reseller.
Tim juga menyiapkan template surat penawaran kerja sama dan memberikan pendampingan komunikasi bisnis serta negosiasi. Target berikutnya adalah terbangunnya sedikitnya satu kesepakatan awal dengan mitra usaha.
Ketua tim pengabdian melalui program tersebut menempatkan komunikasi bisnis sebagai bagian penting dalam pengembangan UMKM. Pendekatan yang digunakan tidak hanya memberikan pelatihan pemasaran digital, tetapi juga membangun hubungan antara produk, calon pembeli, dan calon mitra usaha.
“Model KOMPAS menempatkan business matching sebagai tahap inti, bukan sekadar pelengkap pelatihan digital marketing,” demikian arah program yang dijelaskan dalam laporan pengabdian.
Hingga tahap laporan kemajuan, sejumlah luaran telah dihasilkan, di antaranya katalog digital dan profil usaha, akun media sosial resmi, video edukasi proses produksi, kumpulan testimoni pembeli, poster dan flyer digital, serta template profil usaha dan surat penawaran kerja sama.
Sementara itu, validasi penuh model KOMPAS, kesepakatan awal dengan mitra usaha, serta monitoring perkembangan akses pasar masih menjadi agenda lanjutan program.
Program tersebut juga menyiapkan strategi keberlanjutan dengan mendorong kelompok menunjuk koordinator komunikasi digital dari internal UMKM. Koordinator tersebut nantinya bertugas mengelola media sosial, WhatsApp Business, katalog digital, serta komunikasi dengan calon mitra.
Dengan penguatan tersebut, Gita Cookies diharapkan tidak hanya mampu memproduksi dan mempertahankan legalitas usaha, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola komunikasi dengan pasar secara mandiri dan berkelanjutan.