Riset Kolaboratif untuk Jawab “Wicked Problem”, Akademisi Gorontalo Didorong Lebih Kompetitif

Jumat, 27 Februari 2026 15:51 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID, Gorontalo — Upaya mendorong riset kolaboratif yang mampu menjawab persoalan kompleks di daerah menjadi fokus dalam Workshop Collaborative Research Berbasis Isu dan Tantangan Wilayah di Provinsi Gorontalo. Kegiatan tersebut menghadirkan Zulham Sirajuddin, Ph.D, yang memaparkan strategi penyusunan proposal kolaboratif agar lebih kompetitif dalam skema hibah nasional maupun internasional.

Dalam pemaparannya, Zulham menekankan pentingnya pendekatan transdisipliner untuk menjawab apa yang disebut sebagai “wicked problem” atau persoalan rumit yang saling terkait antara aspek teknis, sosial, dan budaya. Menurutnya, masalah seperti perubahan iklim, kemiskinan, dan ketimpangan sosial tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan tunggal atau linier.

“Kompleksitas persoalan hari ini menuntut kolaborasi lintas disiplin dan lintas pemangku kepentingan. Donor tidak hanya mencari ide yang bagus, tetapi tim yang mampu mengeksekusi gagasan tersebut secara terukur,” ujarnya.

Baca juga:

Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham Dilantik Hari Ini di Istana Merdeka

Ia menjelaskan, dalam menyusun proposal kolaboratif, peneliti harus memahami secara cermat “koridor pendanaan” lembaga donor, termasuk membaca Terms of Reference (ToR), rencana strategis, serta tema yang menjadi prioritas pendanaan. Kesalahan dalam memosisikan isu dinilai menjadi salah satu penyebab utama proposal tidak lolos seleksi.

Zulham juga menguraikan pentingnya positioning isu yang kuat melalui framing berbasis data terbaru, analisis kesenjangan (gap analysis), serta penegasan urgensi masalah. Proposal yang kompetitif, kata dia, harus memiliki diferensiasi, kebaruan solusi (novelty), serta nilai tambah kolaborasi lintas disiplin.

Selain itu, struktur proposal menjadi aspek krusial. Komponen seperti tujuan, luaran (output), hasil (outcome), metodologi, rencana kerja (work plan), hingga aspek keberlanjutan harus dirumuskan secara spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART). Penyusunan logical framework (logframe) dan pembagian peran yang jelas antar mitra juga menjadi perhatian utama.

Dalam konteks kolaborasi, ia menegaskan pentingnya membangun konsorsium yang komplementer, kredibel, dan relevan dengan kebutuhan skema hibah. Tata kelola tim, mekanisme koordinasi, serta manajemen risiko dinilai menentukan keberhasilan implementasi program.

Workshop ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas akademisi dan praktisi di Gorontalo dalam mengakses hibah riset kolaboratif, sekaligus memperkuat jejaring lintas institusi untuk menghasilkan penelitian yang berdampak secara ilmiah, kebijakan, sosial, dan kelembagaan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didorong untuk tidak sekadar menyusun proposal administratif, tetapi merancang agenda strategis yang mampu menjawab tantangan wilayah secara berkelanjutan.

Baca juga:

PANRB Dukung Peningkatan Karier dan Penguatan Peran Dosen ASN PPPK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *