Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO — Kelompok 2 mengangkat isu perubahan iklim dalam Pertemuan Forum Pengetahuan Peneliti Indonesia Timur yang berlangsung pada 25–26 Februari 2026 di Ruang Diyonimu 1, Aston Hotel. Forum yang terselenggara atas kerja sama Yayasan BaKTI dan KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia–Indonesia) ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan penguatan kolaborasi riset berbasis bukti untuk kawasan Indonesia Timur.
Kelompok 2 menawarkan judul penelitian Transformasi Pertanian Cerdas Iklim yang Inklusif di Gorontalo: Strategi Adaptasi dan Mitigasi Berbasis Evidence untuk Kebijakan Daerah. Penelitian tersebut dirancang sebagai respons atas meningkatnya kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan pola suhu, curah hujan, dan kejadian iklim ekstrem yang berdampak pada produktivitas serta kesejahteraan petani.
Tim ini diketuai oleh Dr. Bachtiar dari Universitas Gorontalo yang memiliki kepakaran di bidang agroklimatologi dan ilmu pertanian. Ia bersama delapan peneliti lintas disiplin, yakni Ivana Butolo, SE., MP dari BAPPEDA; Nova Effendy Muhammad, PhD dari IAIN; Dr. Darmawati, SH., MH dari Unisan; Risna Karim, SE dari HWDI; Ir. Misrawati Aprilyana Puspa, M.Kom dari Unisan Gorontalo; Fatra Hala dari WIRE-G; Haritsa, SH., MH dari Leaders; serta Ramansyah, S.Sos., M.I.Kom dari UNG, membangun pendekatan interdisipliner yang mencakup aspek biofisik, sosial, ekonomi, teknologi, hingga komunikasi publik.
Dalam rangkaian kegiatan forum, Kelompok 2 dijadwalkan mempresentasikan proposal risetnya pada hari kedua. Paparan tersebut akan memuat analisis tren perubahan iklim selama tiga dekade terakhir, proyeksi hingga 2050, serta rancangan strategi adaptasi dan mitigasi berbasis data ilmiah dan kebutuhan lokal Gorontalo.
Selain akan memaparkan inovasi teknologi seperti pemanfaatan biochar dari limbah tongkol jagung dan praktik pertanian konservasi, tim juga akan menjelaskan pendekatan inklusif berbasis GEDSI untuk memastikan partisipasi petani perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Rekomendasi kebijakan dan model pembiayaan inovatif turut menjadi bagian dari materi yang akan disampaikan di hadapan peserta forum.
Melalui presentasi pada hari kedua tersebut, Kelompok 2 berharap memperoleh masukan konstruktif dari para peneliti dan pemangku kepentingan guna menyempurnakan desain riset. Transformasi pertanian cerdas iklim diharapkan tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi juga menjadi rujukan strategis dalam perencanaan pembangunan daerah yang tangguh dan berkeadilan.