Mahasiswa UNG Kembangkan Eceng Gondok Jadi Produk Bernilai di Desa Iluta

Jumat, 4 Juli 2025 07:03 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID, Gorontalo – Sebanyak 17 mahasiswa dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), resmi melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pengabdian Masyarakat Mandiri (KKN PMM) di Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo. Program pengabdian yang berlangsung sejak Selasa, 7 Maret 2025, ini mengusung inovasi unik: menyulap eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomis.

Penyambutan para mahasiswa berlangsung hangat di Aula Kantor Desa Iluta. Hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Desa Iluta, para Kepala Dusun, serta dua dosen pembimbing lapangan (DPL) dari UNG.

Ketua KKN PMM Desa Iluta, Santika Usman, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi dalam menggerakkan potensi lokal. “Kami membawa program inti dari dosen pelaksana, sementara mahasiswa akan melaksanakan program turunan yang dikembangkan bersama masyarakat,” jelasnya. Fokus utamanya, tambah Santika, adalah mengelola limbah eceng gondok agar memiliki nilai jual.

Dua Sasaran, Satu Visi: Karang Taruna dan Dasawisma

Dosen pendamping lapangan sekaligus tokoh penggerak program, Prof. Ismet Sulila, menekankan bahwa KKN ini tidak sekadar rutinitas tahunan, tetapi dirancang dengan target sosial yang terukur. “Kami menyasar dua kelompok utama: Karang Taruna dan Dasawisma. Harapannya, eceng gondok yang selama ini dianggap gulma bisa diolah jadi sumber penghasilan,” ungkapnya.

Baca juga:

Dentum Meriam Ranpur Menggema di Bone, Pangdam XIV/Hasanuddin Pastikan Kesiapan Alutsista dan Prajurit

Dengan formasi 7 mahasiswa laki-laki dan 10 perempuan, tim KKN PMM ini akan membaur dan bekerja sama dengan warga untuk menggali potensi desa. Mereka akan mengedukasi masyarakat melalui lokakarya kreatif, pelatihan pengolahan eceng gondok, dan pendampingan pemasaran produk.

Tiga Tahapan Monev: Dari UNG hingga LLDIKTI

Untuk memastikan keberhasilan program, kegiatan KKN PMM di Desa Iluta akan melalui proses monitoring dan evaluasi (monev) secara berlapis. “Tahap pertama dilakukan oleh dosen pembimbing dan ketua tim, memantau kesiapan program dan pelibatan warga,” jelas Prof. Ismet.

Baca juga:

Residivis Pencurian Kembali Beraksi, Pelaku Dilumpuhkan dengan Timah Panas

Tahap kedua akan melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNG. “LP2M akan turun langsung saat hari pelaksanaan pengelolaan eceng gondok, mengecek kesesuaian indikator keberhasilan yang telah ditetapkan,” tambahnya.

Tahap akhir monev menjadi tanggung jawab Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI). Lembaga ini akan menilai capaian program, termasuk konversi mata kuliah yang diintegrasikan ke dalam KKN. “Ini penting untuk menjamin bahwa mahasiswa tak hanya belajar di lapangan, tapi juga memperoleh capaian akademik yang nyata,” pungkasnya.

Pengabdian Nyata, Dampak Berkelanjutan

Program KKN PMM ini menjadi bukti bagaimana sinergi antara dunia kampus dan masyarakat mampu menciptakan solusi berkelanjutan. Di tengah tantangan ekonomi desa, eceng gondok yang dulu hanya memenuhi permukaan danau kini diubah menjadi simbol inovasi dan kemandirian.

Desa Iluta bukan sekadar lokasi pengabdian, tetapi juga ruang kolaborasi yang menumbuhkan semangat berbagi, belajar, dan membangun masa depan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *