BPS Catat Produksi Padi Gorontalo Menurun, Harga Ikan Picu Deflasi

Selasa, 3 November 2026 13:02 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Produksi padi dan jagung di Provinsi Gorontalo pada 2026 diproyeksikan menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan produksi padi sekitar 3,47 persen, yang salah satunya dipengaruhi menyusutnya luas panen akibat kekeringan.

Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara. Penghitungan produksi hingga Desember 2026 belum sepenuhnya rampung.

Berdasarkan penghitungan sementara, produksi padi Gorontalo pada 2025 mencapai sekitar 281,17 ribu ton. Pada 2026, jumlahnya diperkirakan turun menjadi sekitar 271 ribu ton atau berkurang sekitar 9,75 ribu ton.

Penurunan serupa juga diproyeksikan terjadi pada produksi jagung. Secara kumulatif, produksinya diperkirakan menyusut sekitar 3,47 persen atau setara kurang lebih 5 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Agus menjelaskan, BPS menggunakan dua metode untuk menghitung produksi padi, yakni Kerangka Sampel Area (KSA) dan Survei Ubinan. KSA digunakan untuk memperkirakan luas panen melalui pemantauan kondisi tanaman di lapangan setiap akhir bulan. Adapun Survei Ubinan dilakukan dengan mengukur hasil panen petani guna memperoleh angka produktivitas per hektare.

Kedua data tersebut kemudian dikalikan untuk menghasilkan perkiraan produksi padi.

Baca juga:

Dentum Meriam Ranpur Menggema di Bone, Pangdam XIV/Hasanuddin Pastikan Kesiapan Alutsista dan Prajurit

Meski luas panen menunjukkan kecenderungan penurunan, produktivitas pada periode tertentu masih mengalami peningkatan. Pada Januari-April 2026, misalnya, produksi padi tercatat meningkat 8,09 persen meskipun luas panennya menurun.

Namun, dampak kekeringan mulai terlihat pada periode berikutnya. Penurunan produksi terjadi dalam beberapa periode pengamatan sehingga proyeksi produksi sepanjang 2026 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Di luar sektor pertanian, BPS juga mencatat Gorontalo mengalami deflasi sebesar 0,67 persen pada Oktober 2026. Angka tersebut menempatkan Gorontalo sebagai provinsi dengan deflasi terdalam secara nasional.

Agus mengatakan penurunan harga sejumlah komoditas dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pemicu deflasi. Komoditas perikanan, terutama berbagai jenis ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat, memberikan kontribusi cukup besar terhadap penurunan indeks harga.

Menurut dia, ikan memiliki bobot yang cukup besar dalam penghitungan inflasi daerah. Karena itu, perubahan harga komoditas tersebut turut memengaruhi pergerakan inflasi di Gorontalo.

Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Gorontalo tercatat berada pada posisi positif sebesar 2,79 persen. Kondisi ini menunjukkan indeks harga yang diterima petani mengalami peningkatan lebih besar dibandingkan indeks harga yang dibayarkan untuk kebutuhan konsumsi dan biaya produksi.

Terkait dugaan berkurangnya lahan persawahan akibat pembangunan perumahan, Agus mengatakan persoalan tersebut perlu ditelusuri berdasarkan data masing-masing kabupaten dan kota.

Baca juga:

Makassar Gandeng Putera Sampoerna Foundation, Latih 40 Guru Tingkatkan Kompetensi

BPS, kata dia, akan melihat perkembangan luas lahan pertanian di setiap wilayah, termasuk daerah yang mengalami peningkatan maupun penurunan. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan pembahasan bersama pemerintah daerah.

Agus menegaskan angka produksi padi dan jagung yang disampaikan saat ini masih dapat berubah. BPS dijadwalkan merilis angka tetap setelah seluruh proses penghitungan dan pemutakhiran data selesai pada Februari 2027.

Pewarta: Saad Sugai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *