Demi Gaji Lebih Besar, Kades di Ciamis Rela Mundur dan Pilih Kerja di Jepang

Sabtu, 15 Februari 2025 07:21 WITA | Ramansyah

JAKARTA, INFOO24JAM – Keputusan mengejutkan datang dari Kepala Desa (Kades) Sukamulya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dodi Romdani memilih mengundurkan diri dari jabatannya demi kembali bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang. Keputusannya ini pun langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Dodi bukan orang baru di dunia kerja di Jepang. Sebelumnya, ia pernah mengadu nasib di Negeri Sakura sebelum akhirnya kembali ke tanah air dan menjabat sebagai kepala desa. Namun, panggilan dari perusahaan tempatnya bekerja dulu mengubah segalanya. Gaji yang lebih menjanjikan menjadi alasan kuat Dodi meninggalkan jabatannya sebagai pemimpin desa.

“Iya benar, pada tahun 2024 kita memproses pengunduran diri kepala desa Sukamulya. Alasannya karena ia akan kembali bekerja di Jepang,” ujar Kepala Bagian Hukum Setda Ciamis, Deden Nurhadana.

Meski belum memberikan klarifikasi langsung, keputusan Dodi menegaskan satu hal: peluang kerja di luar negeri bagi PMI masih terbuka lebar, dan kompensasi yang ditawarkan jauh lebih menggiurkan dibandingkan jabatan kepala desa di Indonesia.

Viral di Media Sosial, Netizen Beri Dukungan

Baca juga:

Aksi Pemalakan Sopir Truk di Palembang Terekam Kamera, Polisi Lakukan Penyelidikan

Kisah Dodi ini viral setelah diunggah oleh akun Instagram @lambe_turah. Banyak netizen yang mendukung keputusannya, menyoroti realitas ekonomi dan tingkat kesejahteraan pekerja di Indonesia.

“Good pak. Pergilah ke tempat di mana engkau dihargai,” tulis akun @nur***.

Baca juga:

Bupati Gowa Target Raih Kabupaten Sehat Tingkat Swasti Saba Wistara

“Kades aja mundur, upah terlalu kecil kerja di Indonesia,” tambah @bus***.

“Lima tahun kerja di Jepang sama dengan 20 tahun kerja di Indonesia,” ungkap @efs***.

Tak sedikit pula yang memuji Dodi karena memilih jalan yang lebih baik daripada mencari keuntungan dengan cara yang tidak etis.

“Gak apa-apa daripada dia nerima suap. Lebih baik mundur dan merantau,” tulis @tup***.

Sementara itu, beberapa komentar bernada satire menyinggung realitas kehidupan di Indonesia.

“Mencari kehidupan lebih layak, lebih nyaman, dan lebih waras adalah impian semua orang,” ujar @teg***.

Keputusan Dodi menjadi gambaran bagaimana tenaga kerja Indonesia masih banyak yang lebih memilih bekerja di luar negeri demi kehidupan yang lebih baik. Apakah ini sekadar pilihan pribadi atau cerminan kondisi tenaga kerja di Indonesia? Publik pun terus memperdebatkan kisah Dodi yang kini menjadi fenomena viral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *