Fenomena Hujan Jelly Menggemparkan Gorontalo: Fakta atau Hoaks?

Senin, 17 Februari 2025 18:46 WITA | Ramansyah

INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Warga Desa Leayo, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, baru-baru ini dikejutkan oleh kemunculan fenomena alam yang tak biasa. Video beredar luas menunjukkan butiran mirip jelly atau agar-agar yang memenuhi jalanan, membuat banyak orang bertanya-tanya tentang keaslian peristiwa ini.

Seorang warga, Erwan Saputra, menceritakan pengalamannya saat melihat butiran jelly tersebut memenuhi pekarangan rumahnya setelah hujan deras. “Kami bahkan sibuk mencari wadah untuk menampung jelly-jelly ini,” ujarnya. Namun, sebagian warga merasa ragu dan memilih untuk menjauh, tidak ingin terkena langsung oleh hujan tersebut.

Kejadian ini terjadi pada Sabtu, 15 Februari 2025, sekitar pukul 20.00 WITA, setelah hujan lebat mengguyur desa. Namun, seiring viralnya video tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Gorontalo segera memberikan tanggapan.

Tanggapan BMKG

BMKG meragukan kebenaran fenomena hujan jelly di Gorontalo. Arimi Pratiwi Gani, petugas operasional BMKG Stasiun Meteorologi Djalaludin, menjelaskan bahwa hujan jelly biasanya terjadi di wilayah kutub, jauh dari jalur khatulistiwa. “Kami belum dapat memvalidasi kebenarannya. Hujan jelly sangat tidak mungkin terjadi di Indonesia,” ungkapnya.

Baca juga:

Kapolres Gowa Bersama Dandim 1409 Tinjau Langsung Pos Pengamanan Ops Ketupat 2025

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

Klarifikasi dari Warga

Tak lama setelah video viral, salah satu warga, Santi Malahedi, memberikan klarifikasi melalui media sosial. Ia mengakui kesalahpahaman yang terjadi. “Saya mohon maaf atas kegaduhan ini. Saya tidak bermaksud menyebarkan berita palsu, hanya terkejut melihat kejadian tersebut,” ungkap Santi.

Setelah ditelusuri, ternyata fenomena yang tampak seperti hujan jelly adalah hasil permainan anak-anak setempat. “Anak-anak bermain dengan serbuk jelly di siang hari sebelum hujan, dan saat hujan turun, serbuk itu berubah menjadi jelly-jelly,” jelasnya.

Santi menegaskan bahwa klarifikasi ini dilakukan setelah ia mendapatkan informasi yang jelas. “Sekali lagi, saya minta maaf atas berita yang sudah saya sebarkan,” pungkasnya.

Dengan penjelasan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar. Fenomena unik ini, meskipun tidak terduga, ternyata memiliki penjelasan yang lebih sederhana.

Baca juga:

Appi Tegaskan PDAM Berbenah: Air Bersih untuk Semua, Tanpa Nepotisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *