Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM..ID, Gorontalo – Komitmen terhadap penguatan prinsip kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial kembali ditegaskan dalam forum akademik yang digelar di Provinsi Gorontalo. Dalam kegiatan tersebut, vokal point sekaligus Ketua Jaringan Peneliti Indonesia Timur (JIKTI) Provinsi Gorontalo, Dr. Hijrah Lahaling, SH., MH, tampil sebagai pemateri yang menekankan pentingnya integrasi perspektif GEDSI secara substantif dalam setiap agenda penelitian pada Forum Pengetahuan Peneliti Indonesia Timur kerjasama Yayasan BaKTI dan KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia) Rabu, (25/2/26) di Ruang Diyonimu 1, Aston Hotel.
Dalam pemaparannya, Dr. Hijrah Lahaling menegaskan bahwa implementasi GEDSI tidak boleh berhenti pada tataran administratif atau formalitas dokumen proposal. Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang hanya menyebutkan kelompok perempuan, penyandang disabilitas, atau masyarakat wilayah marginal tanpa keterlibatan bermakna belum dapat dikategorikan sebagai responsif, apalagi transformatif. Menurutnya, penelitian yang berkualitas harus mampu membaca ketimpangan struktural, hambatan partisipasi, serta relasi kuasa yang timpang di tingkat rumah tangga, komunitas, hingga institusi.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa paradigma responsif GEDSI menuntut adanya desain riset yang benar-benar memberi manfaat nyata bagi kelompok marginal. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan data terpilah, komposisi tim penelitian yang inklusif, serta strategi kemitraan yang mencerminkan representasi setara. Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan interseksional yang memahami keterkaitan antara gender, disabilitas, usia, kondisi geografis, dan akses terhadap sumber daya dalam membentuk pengalaman sosial seseorang.
Sebagai Ketua JIKTI Provinsi Gorontalo, Dr. Hijrah Lahaling mendorong perguruan tinggi di daerah untuk bertransformasi menuju praktik penelitian yang tidak hanya sensitif, tetapi juga transformatif. Ia menilai bahwa perubahan norma sosial yang diskriminatif harus menjadi bagian dari agenda ilmiah, sehingga hasil penelitian mampu berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan kelompok rentan secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas akademisi di Gorontalo agar mampu menghasilkan riset yang inklusif, berkeadilan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui komitmen bersama, integrasi prinsip GEDSI diyakini dapat menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem penelitian yang lebih adil dan berdampak luas di tingkat regional maupun nasional.