Rayakan Seratus Tahun Ahmadiyah , JAI Makassar Akan Tanam 100.000 Pohon Hadapi Krisis Iklim

Sabtu, 18 Oktober 2025 15:34 WITA | Lukman Hakim

MAKASSAR, INFOO24JAM – Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Makassar menggelar seminar dan sharing session bertajuk Masa Depan Bumi: Mengatasi Tantangan Ekologi untuk Generasi Mendatang di Peace Center Masjid An-Nushrat, Jalan Anuang, Makassar, Sabtu (18/10/2025).

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen JAI dalam merespons isu perubahan iklim sekaligus menyambut satu abad keberadaan organisasi tersebut di Indonesia.

Ketua panitia pelaksana, Irza Rasyid Ali, menjelaskan bahwa sejak 2015, JAI telah memprakarsai gerakan “Clean The City” yang telah melibatkan lebih dari 60.000 relawan di lebih dari 50 kota di Indonesia. Ia menambahkan, sebagai bentuk lanjutan, JAI menargetkan penanaman 100.000 pohon di 100 titik se-Indonesia sebagai simbol perayaan 100 tahun komunitas tersebut.

“Ini bagian dari komitmen Jemaat Ahmadiyah dalam merespons isu-isu lingkungan hidup secara nyata dan berkelanjutan,” ujar Irza. Ia menegaskan, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan memperkuat solidaritas komunitas lokal.

Dalam pemaparan seminar, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Rajuddin, M.Sc., menyatakan bahwa menjaga lingkungan adalah kewajiban semua umat manusia. Ia menyoroti pentingnya akses terhadap udara dan air bersih, tanah subur, ekosistem laut, serta infrastruktur yang layak demi keberlangsungan hidup.

Baca juga:

Remaja Melahirkan di Warung dan Buang Bayinya ke Semak-Semak, Aksi Terekam CCTV

“Dengan memahami berbagai aspek lingkungan hidup yang penting bagi manusia, kita dapat lebih baik dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup yang seimbang,” kata Prof. Rajuddin. Ia juga menekankan pentingnya komunitas yang harmonis serta sistem ekonomi yang berkeadilan dalam membangun lingkungan yang sehat.

Dalm kesempatan ini, Prof.Tajuddin juga memaparkan bahwa kerusakan lingkungan berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari ancaman terhadap kesehatan, ketahanan pangan, hingga potensi konflik sosial dan pelanggaran HAM. Ia mengingatkan bahwa jika tidak ada langkah preventif, kerusakan ini dapat mengancam ekosistem jangka panjang.

“Kerusakan lingkungan bukan hanya soal alam, tapi juga tentang masa depan peradaban manusia,” tegas Prof. Tajuddin. Ia pun mengajak masyarakat untuk aktif meningkatkan kesadaran dan mengambil tindakan nyata dalam pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Slamet Riyadi selaku Kepala Departemen Riset dan Keterlibatan Publik WALHI Sulawesi Selatan mengungkapkan data bahwa sejak 2001 hingga 2024, sekitar 85.270 hektare hutan di Sulawesi Selatan hilang. Berdasarkan data tahun 2024, luas hutan yang tersisa hanya 1.359.039 hektare.

“Bencana itu adalah kesempatan bumi memperbaiki siklus hidupnya,” ujar Slamet saat menyinggung 1.420 kasus banjir, 973 kebakaran hutan, dan ratusan bencana lainnya yang terjadi di Indonesia sepanjang 2024. Ia mengingatkan bahwa kondisi sungai, hutan, dan laut yang rusak kini tak lagi mampu menahan dampak perubahan iklim.

Slamet mendorong pendekatan eko-populis sebagai solusi keberlanjutan, agar manusia dan alam bisa hidup selaras. Ia juga menyoroti pentingnya valuasi ekonomi terhadap ekosistem agar kebijakan pembangunan tidak bersifat eksploitatif semata.

“Kita butuh skema pembangunan yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga berkeadilan,” ujarnya.

Sebagai penutup, Slamet mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dengan melaporkan setiap bentuk kerusakan lingkungan di sekitar mereka.

“Terakhir, laporkan kerusakan lingkungan di sekitarmu,” tutupnya. (Andi)

Baca juga:

Pengendara Mobil Protes di SPBU Shell Gara-Gara BBM Netes ke Ban, Petugas Tetap Tenang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *