Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, Gorontalo – Provinsi Gorontalo mencatat inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 0,80 persen pada Juni 2025. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, inflasi ini terjadi akibat kenaikan harga pada delapan dari sebelas kelompok pengeluaran yang dipantau.
Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menyampaikan dalam Berita Resmi Statistik bahwa inflasi tahunan di Kota Gorontalo tercatat sebesar 0,77 persen, sedangkan Kabupaten Gorontalo sedikit lebih tinggi yakni 0,81 persen.
“Inflasi tahunan ini menunjukkan adanya tekanan harga yang relatif moderat, namun tetap perlu menjadi perhatian terutama dari sisi pengeluaran rumah tangga,” ujarnya.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y di antaranya adalah:
1) Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,57 persen, 2) Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,80 persen, 3) Kelompok kesehatan sebesar 1,06 persen, serta 4) Kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,88 persen.
Sementara itu, tiga kelompok pengeluaran mengalami deflasi y-on-y, yaitu:
1) Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,99 persen, 2) Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,79 persen, dan 3) Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,76 persen.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Provinsi Gorontalo mengalami inflasi sebesar 0,37 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) hingga Juni 2025 mencapai 1,05 persen.
BPS mencatat bahwa dinamika harga ini mencerminkan kondisi ekonomi regional yang tetap stabil, meskipun beberapa komoditas strategis masih menunjukkan fluktuasi harga. Dwi Alwi menambahkan, pihaknya terus memantau perkembangan harga dan pola konsumsi masyarakat sebagai bahan evaluasi kebijakan fiskal dan pengendalian inflasi di daerah.

“Inflasi yang terkendali seperti ini menunjukkan efektivitas sinergi antara pemerintah daerah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga stabilitas harga, terutama menjelang momen penting di paruh kedua tahun ini,” tutup Dwi.
Reporter/Wartawan : Ismail Husin
Fotografer/Kameramen : Saad Lintang Wardana Sugai