Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID – Di media sosial, dua siswa SMP mencuri perhatian dengan kritik tajam terhadap pemasangan guiding block jalur untuk memandu penyandang difabel, khususnya tunanetra yang justru mengarah ke sungai. Video yang diunggah oleh akun @pararararibambam dan viral, termasuk di akun X @idhighlight, memperlihatkan aksi berani mereka.
Dalam video tersebut, kedua siswa mengenakan seragam pramuka dan melakukan simulasi yang mengungkapkan bahaya dari guiding block di Taman Danau Dampelas, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Mereka menunjukkan bagaimana jalur tersebut menuntun penyandang tunanetra menuju sungai, bahkan mengarahkan salah satu siswa menabrak tembok kecil yang berujung di tepi sungai. Memprihatinkan, tidak ada pengaman atau pagar besi yang memadai.
Kedua siswa tersebut menekankan bahwa jalur guiding block ini sangat berbahaya dan mendesak agar segera dilakukan perubahan. Jika itu tidak memungkinkan, mereka meminta agar dipasang pagar sebagai penghalang demi keselamatan tunanetra.
“Jadi mohon kementerian arsitektur ini dikasih penyangga kek,” ujar salah satu siswa dalam video dengan nada serius.
Aksi kritis mereka langsung menuai pujian dari netizen. Banyak yang mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Beberapa komentar yang muncul antara lain:
“Anak SMP aja tau! Masa yang pejabat terkait yang lulusan sarjana gak tau?” – @rah***
“Pemikiran kritis kayak gini yang wajib dipelihara untuk mewujudkan generasi emas. Keren kau, dekk!” – @bak***
“Malu ih pemerintah, masa kalah sama anak SMP.” – @jae***
“PUPR harusnya malu tuh sama anak sekolah, hebat kamu dek udah bisa kritis.” – @dwi***
“Yang buat itu guiding block kayaknya gak paham atau gak diedukasi apa fungsinya.” – @rew***
Sebuah pengingat bahwa evaluasi terhadap infrastruktur yang menyangkut keselamatan publik sangat penting. “Jangan nunggu jatuh korban dulu. Ini bukan cuma soal kelalaian teknis, tapi juga soal nyawa dan keselamatan,” tegas @roh***. Dalam aksi ini, siswa SMP menunjukkan bahwa empati dan logika seringkali lebih hidup di generasi muda.