Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

Oleh: Revalina Tumu
(Peserta latihan khusus KOHATI 2026)
INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Di tengah riuk pembangunan dan cita-cita mencetak generasi unggul, sebuah bayang-bayang kelam masih membayangi Kabupaten Gorontalo Utara. Tren tingginya angka perkawinan anak yang tecermin dari maraknya permohonan dispensasi nikah bagi anak di bawah umur bukan lagi sekadar angka statistik dalam laporan tahunan pengadilan agama, melainkan sinyal bahaya bagi kualitas hidup generasi mendatang di Provinsi Gorontalo.
Sebagai masyarakat asli yang lahir, tumbuh, dan besar di Gorontalo Utara, serta sebagai kader Korps HMI-Wati (KOHATI) yang mengawal isu-isu perempuan dan anak, saya merasa terpanggil untuk menyuarakan keresahan ini. Fenomena ini kerap kali dipicu oleh lingkungan pergaulan bebas yang berujung pada kehamilan di luar nikah. Namun, yang paling memprihatinkan bukan hanya dinamika pergaulan remaja itu sendiri, melainkan bagaimana lingkungan sosial di sekitarnya merespons kondisi tersebut. Ketika nasi telah menjadi bubur, pernikahan dini tergesa-gesa kerap diambil sebagai jalan pintas demi satu dalih klasik: menutupi aib keluarga.
Antara Kekeliruan Sistemik dan Dampak Berantai
Menganggap perkawinan anak sebagai penawar dari persoalan kehamilan remaja adalah sebuah kekeliruan sistemik. Pernikahan di bawah umur yang dipaksakan atas dasar rasa malu tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah, melainkan hanya memindahkan krisis dari ruang publik ke ruang domestik.
Anak-anak yang secara fisik, mental, dan finansial belum matang dipaksa mengemban tanggung jawab besar sebagai orang tua. Akibatnya, rantai persoalan baru pun terurai mulai dari:
Minimnya Kepekaan Keluarga dan Normalisasi Masalah
Penyebab utama dari terus berulangnya fenomena ini dan mengapa seolah dinormalisasi di Gorontalo Utara berakar dari lingkungan terdekat anak, yaitu kurangnya peran dan kepekaan keluarga.
Selama ini, narasi pencegahan perkawinan anak seolah dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah, lembaga hukum, atau instansi pendidikan melalui berbagai regulasi dan sosialisasi. Padahal, benteng pertahanan paling awal dan utama berada di dalam rumah. Pemerintah dapat memperketat syarat dan prosedur dispensasi nikah, tetapi negara tidak berada di dalam rumah untuk mendampingi tumbuh kembang serta dinamika emosional anak setiap hari.
Banyak orang tua yang masih menempatkan diri sekadar sebagai pencari nafkah atau figur otoriter tanpa membangun ruang komunikasi yang hangat dan terbuka. Ketika anak tidak menemukan ruang aman di rumah untuk berdiskusi tentang kesehatan reproduksi, batasan pergaulan, serta cita-cita masa depan, mereka akan mencari validasi di luar rumah tanpa arah dan perlindungan yang memadai.
Solusi dan Rekomendasi kepada Orang Tua
Mencegah perkawinan anak di Gorontalo Utara membutuhkan keberanian moral dari para orang tua untuk mendobrak tradisi memaklumi atau menutupi rasa malu dengan mengorbankan masa depan anak. Masyarakat Gorontalo Utara harus membangun kesadaran kolektif bahwa pernikahan bukan sekadar legalitas ikatan di atas kertas, melainkan kesiapan hidup secara holistik.
Orang tua di Gorontalo Utara harus mengambil peran aktif melalui langkah-langkah konkret:
Usulan dan Rekomendasi kepada Pemerintah Daerah
Menghentikan laju perkawinan anak di Gorontalo Utara tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pundak keluarga saja. Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Gorontalo harus mengambil langkah taktis, terukur, dan berkelanjutan melalui kebijakan konkret berikut:
Sikap dan Catatan Kritis KOHATI
Perkawinan anak bukanlah hal biasa yang boleh dimaklumi, apalagi dijubahi dengan alasan kepraktisan sosial. Menghentikan laju perkawinan anak di Gorontalo Utara tidak cukup hanya dengan mengandalkan ketukan palu hakim atau seminar-seminar edukasi pemerintah. Perubahan sejati harus dimulai dari meja makan dan ruang tamu keluarga kita sendiri.
Bagi kami di KOHATI, perlindungan terhadap anak adalah investasi paling berharga untuk melahirkan generasi yang tangguh, berpendidikan, dan bermartabat. Oleh karena itu, kami menegaskan:
Melindungi anak dari pernikahan dini hari ini adalah investasi paling berharga untuk masa depan daerah kita. Sebab, tidak ada masa depan Gorontalo Utara yang kuat tanpa generasi muda yang sehat, cerdas, dan terlindungi.