Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, GORONTALO – Film pendek berjudul Thirteen Missing Books karya sineas muda Gorontalo, Sandi Nteya, resmi diputar pada ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025. Pemutaran film ini berlangsung di Studio XXI Empire, Yogyakarta, pada Rabu, 3 Desember 2025.

Thirteen Missing Books merupakan karya pertama Sandi Nteya yang diproduksi oleh rumah produksi Humine Pictures pada 2024. Film ini mengangkat peristiwa pergolakan tahun 1998 dengan pendekatan semiotika yang mendalam.
Cerita dalam film ini mengikuti kisah Simon, seorang mahasiswa yang memiliki hobi mengoleksi buku. Ia sangat menghargai tiga belas buku koleksinya. Namun, kehidupan Simon berubah ketika seorang anak laki-laki misterius yang disebut “Pemangsa Buku” muncul di kamarnya dan mulai melahap satu per satu buku-buku berharga miliknya. Peristiwa ini memicu konflik emosional yang mendalam pada Simon.
Dalam diskusi usai pemutaran, Sandi mengungkapkan bahwa Thirteen Missing Books terinspirasi dari kisah 13 aktivis yang hilang dalam kerusuhan 1998, saat mahasiswa di seluruh Indonesia memperjuangkan reformasi.
“Film ini membahas isu nasional yang penting. Ceritanya sudah saya pikirkan sejak menulis skripsi pada 2022, yang mengangkat tema HAM pada tahun 1998,” ujar Sandi. “Meskipun kami tidak menampilkan peristiwa tersebut secara eksplisit, kami menggunakan pendekatan semiotik untuk menggambarkan buku-buku yang mewakili para aktivis yang diculik pada masa itu,” tambahnya.
Pemutaran perdana film ini di festival internasional menjadi tonggak penting bagi perkembangan perfilman di Gorontalo.
Pewarta : Saad Sugai