Inspeksi Mendadak DPRD Makassar: Penuhi Janji kepada Pedagang Pasar Sawah
Sulsel

INFOO24JAM.ID, Gorontalo – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Provinsi Gorontalo resmi meluncurkan program Sekolah Khatib, Minggu (20/7/2025), di Aula Kantor DPRD Kota Gorontalo. Program ini digagas sebagai upaya mencetak khatib muda yang berkualitas, berwawasan kebangsaan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Islam moderat.
Ketua PWNU Gorontalo, Dr. Ibrahim T. Sore, dalam sambutannya menyatakan bahwa kehadiran Sekolah Khatib merupakan langkah strategis dalam menjawab kebutuhan khatib di masjid-masjid wilayah Gorontalo, khususnya di Kota Gorontalo.
“Saya sangat mengapresiasi inisiatif Lakpesdam ini. Sekolah Khatib akan menjadi wadah pembinaan bagi calon khatib muda yang tidak hanya memahami agama secara mendalam, tetapi juga mampu menyampaikan khutbah secara santun dan mencerahkan,” ujarnya.
Program ini terbuka untuk masyarakat umum dan kalangan pemuda Nahdliyin dari 31 kelurahan di Kota Gorontalo. Melalui pelatihan intensif, para peserta akan dibekali berbagai keterampilan, mulai dari teknik penyusunan materi khutbah, pemahaman syarat dan rukun khutbah, hingga praktik penyampaian yang efektif dan sesuai dengan budaya lokal.
Ketua Lakpesdam PWNU Gorontalo, Hendra Yasin, menyampaikan bahwa Sekolah Khatib dirancang sebagai ruang kaderisasi khatib muda yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
“Kami ingin mencetak khatib yang bukan hanya fasih berbicara, tapi juga memahami konteks sosial masyarakat. Mereka harus mampu menyampaikan pesan Islam dengan cara yang bijak, sejuk, dan membangun,” tutur Hendra.
Sekretaris Lakpesdam, Imam Nurhakim Hasan, menambahkan bahwa program ini juga mengintegrasikan materi tentang wawasan kebangsaan, toleransi, dan inklusivitas dalam Islam.
“Target kami adalah menghadirkan minimal satu khatib terlatih di setiap masjid lingkungan Nahdliyin. Mereka akan menjadi agen dakwah yang mampu merespons isu-isu keagamaan dan sosial dengan pendekatan moderat,” jelasnya.
Pelatihan ini akan berlangsung secara berkelanjutan dan bersifat angkatan. Setiap angkatan akan menjalani pelatihan selama beberapa minggu, yang mencakup sesi teori, praktik khutbah, serta bimbingan langsung dari para ulama dan praktisi dakwah.
Sebanyak empat asatidz ditunjuk sebagai tenaga pengajar, yakni Ustadz Andries Kango, Abdul Wahab Thomas, Rifian Panigoro, dan Muammar. Mereka akan mendampingi para peserta selama proses pelatihan berlangsung.
Ketua Panitia Sekolah Khatib, Suprisno, menegaskan bahwa program ini bukan sebatas kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari agenda jangka panjang PWNU untuk membangun generasi mimbar yang siap berdakwah secara inklusif.
“Setelah pelatihan, para lulusan akan langsung diarahkan untuk bertugas di masjid-masjid yang membutuhkan, sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah,” ujar Suprisno.
Melalui Sekolah Khatib, Lakpesdam PWNU Gorontalo berharap dapat melahirkan khatib-khatib muda yang mampu menjadi penggerak transformasi dakwah Islam yang damai, toleran, dan membumi di tengah masyarakat.